AMBON – Sebanyak 715 guru dari 31 provinsi di Indonesia serta tiga peserta dari luar negeri mengikuti Orientasi Akademik Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi Guru Tertentu Tahap II Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Pattimura (Unpatti), Rabu (8/7), di Ballroom Lantai V Manise Hotel Ambon. Kegiatan tersebut berlangsung secara hybrid dengan peserta mengikuti orientasi secara daring.
Universitas Pattimura melalui Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) menggelar orientasi sebagai langkah awal sebelum peserta memasuki tahapan perkuliahan hingga Uji Kompetensi Program Pendidikan Profesi Guru (UKPPPG).
Rektor Unpatti, Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut sekaligus mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta.
Menurutnya, guru merupakan garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, seorang guru profesional tidak hanya dituntut menguasai materi pembelajaran, tetapi juga memiliki ketulusan, dedikasi, integritas, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Orientasi akademik ini dirancang untuk membekali para guru dengan pemahaman mengenai sistem pembelajaran, baik secara mandiri melalui platform SIMPKB maupun melalui pendampingan dosen dan guru pamong,” ujarnya.
Rektor menjelaskan, selama proses pendidikan peserta akan menghadapi berbagai tantangan akademik, mulai dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) hingga persiapan menghadapi uji kompetensi. Namun dengan semangat belajar dan komitmen yang kuat, seluruh tahapan tersebut diyakini dapat dilalui dengan baik.
Ia mengajak seluruh peserta memanfaatkan kesempatan ini sebagai momentum meningkatkan kompetensi dan dedikasi sebagai pendidik.
“Jadikan program ini sebagai kesempatan untuk terus belajar. Jangan ragu berdiskusi dengan dosen maupun instruktur. Tunjukkan bahwa lulusan PPG Unpatti adalah guru yang cerdas, berkarakter, dan memiliki integritas tinggi,” pesannya.
Rektor juga berharap seluruh 715 peserta dapat menyelesaikan pendidikan profesi ini hingga dinyatakan lulus sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam mempercepat pemenuhan kuota sertifikasi guru secara nasional.
Sementara itu, Sekretaris PPG Unpatti, Dr. Samuel Ritiauw, M.Pd, menjelaskan bahwa Program PPG merupakan salah satu kebijakan strategis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mencetak guru yang profesional, kompeten, serta mampu menjawab tantangan pendidikan abad ke-21.
Menurutnya, program tersebut memberikan penguatan pada aspek pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian guru agar mampu menjalankan tugas secara optimal di satuan pendidikan.
“Pelaksanaan PPG bagi Guru Tertentu Tahap II Tahun 2026 menjadi bagian penting dari upaya pemerintah memperluas kesempatan bagi guru yang telah memenuhi persyaratan untuk memperoleh sertifikasi pendidik,” katanya.
Ritiauw menjelaskan, tahapan pelaksanaan program dimulai dari pemanggilan peserta, lapor diri, orientasi akademik, perkuliahan secara daring, hingga pendaftaran UKPPPG.
Ia menegaskan orientasi akademik menjadi pintu masuk sekaligus pembekalan awal bagi peserta sebelum mengikuti pembelajaran virtual melalui Ruang Guru dan Tenaga Kependidikan (RGTK).
“Kami berharap peserta memahami mekanisme pembelajaran, hak dan kewajiban selama mengikuti PPG, serta mampu menyelesaikan setiap tahapan dengan baik,” ujarnya.
Ritiauw mengungkapkan, berdasarkan kuota dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Unpatti memperoleh alokasi 1.100 peserta. Dari jumlah tersebut, 864 orang telah terkonfirmasi, namun hanya 715 peserta yang menyelesaikan proses lapor diri.
Sebanyak 154 calon peserta tidak melanjutkan proses registrasi dengan berbagai alasan, di antaranya bidang studi yang tidak sesuai ijazah, tidak memiliki ijazah D-IV atau S-1, telah berpindah jenjang mengajar, hingga tidak memberikan keterangan.
Selain itu, kendala akses internet di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) juga menjadi faktor dominan yang menyebabkan sejumlah peserta gagal mengikuti tahapan administrasi.
“Banyak peserta berada di daerah dengan akses internet yang terbatas sehingga kesulitan memantau notifikasi maupun menyelesaikan proses administrasi,” jelasnya.
Di akhir penyampaiannya, Ritiauw mengingatkan seluruh peserta agar mempersiapkan diri secara maksimal, terutama pada sesi pembelajaran mandiri yang menjadi salah satu penentu keberhasilan dalam mengikuti seluruh rangkaian Program Pendidikan Profesi Guru.
“Pembelajaran mandiri memiliki sejumlah tugas yang wajib diselesaikan. Jika tahapan ini tidak dituntaskan dengan baik, maka proses menuju kelulusan akan mengalami hambatan,” pungkasnya.






































