AMBON – Pendekatan humanis yang dilakukan Kodam XV/Pattimura dalam menangani dampak konflik antara Negeri Hitu Meseng dan Negeri Morela mulai menunjukkan hasil positif. Melalui penugasan prajurit putra daerah, Kodam tidak hanya menjaga stabilitas keamanan, tetapi juga menjadi motor penggerak rekonsiliasi dan pemulihan hubungan persaudaraan masyarakat di Jazirah Leihitu.
Atas perintah Pangdam XV/Pattimura, sejak 22 Mei 2026, sejumlah prajurit yang berasal dari Negeri Hitu Meseng dan Negeri Morela ditugaskan kembali ke kampung halamannya masing-masing. Penugasan tersebut tidak semata-mata untuk mendukung pengamanan wilayah, melainkan juga menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat dan aparat keamanan sekaligus memperkuat semangat hidup orang basudara.
Kehadiran prajurit putra daerah dinilai efektif karena mereka memahami budaya, adat istiadat, serta karakter masyarakat setempat. Kondisi tersebut memudahkan terbangunnya komunikasi yang baik dan rasa saling percaya, sehingga hingga kini situasi keamanan di kedua negeri tetap kondusif tanpa adanya konflik terbuka.
Dalam menjalankan tugasnya, para prajurit aktif mengajak masyarakat, khususnya kalangan pemuda, untuk menjaga persatuan, memperkuat kerukunan, serta tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memicu konflik baru.
Tak hanya itu, prajurit bersama warga juga melaksanakan jaga malam secara bergiliran di Negeri Hitu Meseng dan Negeri Morela sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap keamanan lingkungan. Patroli terpadu yang melibatkan personel TNI, Polri, dan masyarakat pun terus dilakukan secara rutin guna memastikan situasi tetap aman dan terkendali.
Salah satu langkah yang mendapat apresiasi adalah inisiatif prajurit Kodam XV/Pattimura asal Negeri Morela yang membangun komunikasi intensif dengan Raja Negeri Morela beserta para tokoh adat. Dari pertemuan tersebut lahir kesepakatan untuk membantu proses pembangunan kembali rumah-rumah warga Hitu Meseng yang terbakar akibat konflik.
Sebagai wujud nyata semangat persaudaraan, masyarakat Negeri Morela secara sukarela mengizinkan pohon-pohon di kebun milik warga dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Kayu-kayu tersebut kemudian diolah menjadi material siap pakai untuk mendukung pembangunan kembali rumah-rumah yang terdampak.
Langkah tersebut menjadi simbol kuat bahwa nilai-nilai persaudaraan, gotong royong, dan semangat hidup orang basudara masih tumbuh kokoh di tengah masyarakat Maluku. Bantuan yang diberikan bukan hanya berupa material bangunan, tetapi juga menjadi bukti nyata kepedulian bersama untuk menutup lembaran konflik dan membangun masa depan yang damai.
Pendekatan yang diterapkan Kodam XV/Pattimura melalui penugasan prajurit putra daerah menunjukkan bahwa penyelesaian konflik tidak cukup dilakukan dengan pendekatan keamanan semata. Pendekatan kemanusiaan, budaya, serta komunikasi sosial yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat terbukti menjadi fondasi penting dalam membangun perdamaian yang berkelanjutan.
Diharapkan, langkah rekonsiliasi yang terbangun di Hitu Meseng dan Morela dapat menjadi inspirasi bagi berbagai daerah lain di Indonesia. Perdamaian akan terwujud ketika seluruh elemen masyarakat bersedia bergandengan tangan, mengedepankan dialog, serta menempatkan kepentingan bersama di atas segala perbedaan, sehingga persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap terjaga.






































