GlobalMaluku.ID Ambon-Dalam Kegiatan Coffee Morning yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Maluku. Dengan Tema “Refleksi Pembangunan Daerah dan Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Maluku Tahun 2024, yang dihadiri oleh wartawan media cetak, media online dan media elektronik, berlangsung di The View Cafe, karang panjang, Ambon (3/12/2024).
Kepala BPS Provinsi Maluku Maritje Pattiwaellapia, SE., M.Si. menyampaikan bahwa, untuk menghitung pertumbuhan ekonomi itu, kita butuh informasi dan data yang banyak, dari sisi produksi atau lapangan usaha itu ada 17 sektor. Segala usaha yang dilakukan unit usaha yang menghasilkan nilai tambah, kita hitung sebagai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Maritje melanjutkan “Dari sektor pertanian sampai jasa-jasa kita dapat informasi dan kita hitung, kemudian dari sisi pengeluaran ada beberapa komponen diantaranya ada konsumsi rumah tangga, dari ekspor, impor kita dapatkan kemudian dari investasi dan pengeluaran konsumsi lembaga non provit” ungkapnya
Lanjutnya, “dari semua itu kalau dilihat dari tran pertumbuhan ekonomi, tentunya agak fluktuasi ketika masa pandemi, Maluku pernah mengalami pertumbuhan yang kontraksi atau negatif. Jadi dari tahun ke tahun kita juga mengalami pertumbuhan yang negatif, di tahun 2020 sampai mencapai -3,42%. Kemudian secara komulatif pertumbuhan -0,91. Ketika 2014 secara situsi kita pernah mencapai 6,64% dan kemarin kita juga sudah mencapai pertumbuhan 6,23%” Ujar Maritje.
Maritje berharap pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berdampak bagi kesejahteraan masyarakat juga, jangan sampai pertumbuhan ekonomi itu dinikmati oleh segelintir orang saja. Misalnya para investor datang dan membangun investasi, tapi uang kita itu dibawa ke luar dinikmati orang-orang tertentu, dan tidak merata dinikmati masyarakat.
“Potensi kita di Maluku untuk sektor pertanian itu 23,7% yang memberikan ser terbesar terhadap Kue ekonomi kita, kita perlu dorong hal ini, karna dalam perkembangannya sektor ini hanya tumbuh sekitar 4,40% ditriwulan tiga kemarin. Ketika ser terbesar namun kurang efek atau kurang berdampak, ini yang perlu kita dorong” ungkap Kepala BPS.
Namun dari sektor industri, sernya cuma 6% sampai 7% tapi tumbuhnya dobel digit 11%, logam tembaga yang di Maluku Barat Daya disana itu yang mengangkat, kita juga tau Maluku Utara juga pernah tumbuh dobel digit 20% itu Weda yang mengangkat, Nanti kita punya blok masela. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang kurang inklusif, itu perlu dilakukan kajian dan penelitian sehingga dapat disebut ini berpengaruh. Pungkas Maritje
Ia menambahkan, belanja modal Pemerintah di beberpa bidang, punya pengaruh dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, ada kajiannya dari 2014-2021 oleh Akademisi. Kemudian investasi belanja modal APBD, APBN itu juga secara simultan memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi ini juga sudah memiliki kajiannya, jadi saya tidak bisa berbicara bahwa faktor yang mempengaruhi tapi tidak ada kajiannya. Ujar Maritje
“Dari sisi produksi, sektor pertanian merupakan sektor basis yang memiliki pengaruh signifikan positif terhadap pertumbuhan ekonomi kita, pengembangan sektor pertanian perlu strategi kunci untuk memacu pertumbuhan. Kita punya ikan, perikanan kita besar namun memberikan ser 23% tapi tumbuhnya hanya sekitar 4% sampai 5%. Pertanyaannya ada kesalah apa disitu? Hal ini nanti kita pikirkan bersama, agar kedepan perlu kita kawal sektor ini, potensi besar tapi kurang berikan pertumbuhan signifikan” tuturnya
Kata dia, “Konsumsi rumah tangga, kami BPS lihat dengan data yang kami dapat. Di Maluku ketergantungan, kita masih sebagian besar ke APBN dan APBD, jika dibandingkan dengan daerah lain yang PAD-nya sudah tinggi, kalau belanja pemerintah APBN dan APBD tidak bergerak, akan berdampak multiplier effect pada konsumsi rumah tangga kita. Ternyata konsumsi rumah tangga memberikan serter besar terhadap ekonomi kita, dari sisi pengeluaran itu 67% terhadap PDRB ekonomi kita di Maluku. Ungkap Kepala BPS Provinsi Maluku. (VR)


































