AMBON, GLOBALMALUKU.ID | Tidak semua lagu lahir dari ruang studio, petikan gitar, atau rangkaian nada yang dirangkai dengan sengaja. Ada lagu yang lahir dari perjalanan hidup, pergumulan batin, air mata, dan doa yang dinaikkan ketika manusia berhadapan dengan ketidakpastian. Begitulah kisah di balik lagu rohani “Dangke Par Hidop” yang diciptakan oleh Pastor Jimmy Titahena, sebuah ungkapan syukur atas kehidupan, berkat, dan penyertaan Tuhan yang tidak pernah berhenti.
Bagi Ps. Jimmy Titahena, lagu ini bukan sekadar karya musik rohani untuk didengar dan dinyanyikan. Lebih dari itu, “Dangke Par Hidop” merupakan kesaksian pribadi tentang bagaimana Tuhan menguatkan seseorang ketika ketakutan mulai mengusik hati, serta bagaimana pujian menjadi jalan untuk tetap berpegang pada iman di tengah pergumulan.
Berawal dari Pengalaman Hidup yang Menguji Iman
Kisah di balik lagu ini bermula dari pengalaman berat yang dialami Ps. Jimmy Titahena pada tahun 2025. Saat itu, kedua matanya mengalami katarak. Setelah menjalani pemeriksaan, kondisi tersebut dikategorikan sebagai katarak traumatik dan membutuhkan tindakan operasi.
Namun, perjalanan pengobatan itu tidak sepenuhnya berjalan tanpa kekhawatiran. Setelah operasi pertama, mata sebelah kiri yang dioperasi mengalami penurunan penglihatan hingga 50 persen. Kondisi tersebut membuatnya harus terus menjalani pemeriksaan dan pemantauan.
Di balik proses pemulihan itu, ada pergumulan yang tidak mudah. Kekhawatiran tentang penglihatan menjadi bagian dari perjalanan yang harus dihadapinya. Sebagai manusia, rasa takut tentu dapat muncul ketika sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan berada dalam situasi yang tidak pasti.
Akan tetapi, di tengah keadaan tersebut, Ps. Jimmy memilih untuk tidak membiarkan ketakutan menguasai hidupnya. Ia terus memuji dan menyembah Tuhan, sembari membawa pergumulannya dalam doa.
Dari pengalaman itulah, sebuah ungkapan syukur perlahan menemukan maknanya. Di saat ketidakpastian masih membayangi, ia justru diingatkan untuk melihat kembali pemeliharaan Tuhan yang telah menyertainya selama ini.
Ketika Doa Menjadi Lagu
Dalam kesaksiannya, Ps. Jimmy menceritakan bahwa lagu tersebut merupakan pemberian Tuhan melalui pengalaman pribadinya bersama-Nya.
Di tengah pergumulan mengenai kondisi penglihatannya, ia menerima pesan iman yang sederhana, tetapi mendalam: “Dangke par hidop, dangke par berkat.” Terima kasih untuk kehidupan, terima kasih untuk berkat.
Ungkapan itu menjadi inti dari lagu yang lahir bukan dari keadaan yang sepenuhnya mudah, melainkan dari pergumulan untuk tetap percaya.
Baginya, pertolongan Tuhan pada masa lalu menjadi alasan untuk tetap berharap pada pertolongan-Nya hari ini dan pada masa yang akan datang. Jika Tuhan telah menolong kemarin, ia percaya Tuhan juga sanggup menolong hari ini.
Keyakinan itulah yang menjadi kekuatan di balik lagu “Dangke Par Hidop”. Lagu ini mengingatkan bahwa ucapan syukur tidak harus menunggu semua persoalan selesai. Bahkan ketika manusia masih berada dalam proses, rasa syukur tetap dapat dinaikkan karena kehidupan dan penyertaan Tuhan merupakan anugerah yang patut dihargai.
“Dangke Par Hidop”, Ungkapan Syukur dalam Bahasa Hati Orang Maluku
Judul lagu ini memiliki kedekatan dengan ungkapan sehari-hari masyarakat Maluku. Dalam penjelasannya, Ps. Jimmy mengaitkan frasa “Dangke Par Hidop” dengan ucapan terima kasih kepada Tuhan atas kehidupan yang masih diberikan hingga saat ini.
Masih dapat bernapas, menjalani hari, merasakan pemeliharaan, serta mengalami penyertaan Tuhan merupakan alasan untuk bersyukur.
Pesan tersebut terasa sederhana, tetapi menyentuh kehidupan banyak orang. Sebab, tidak semua berkat hadir dalam bentuk kekayaan, keberhasilan, atau pencapaian besar. Terkadang, kesempatan untuk bangun pada pagi hari, masih diberi napas kehidupan, dan memiliki kekuatan untuk melewati pergumulan merupakan anugerah yang sering kali luput disadari.
Melalui lagu ini, Ps. Jimmy mengajak pendengar untuk kembali memaknai hidup sebagai pemberian Tuhan. Apa pun keadaan yang sedang dihadapi, rasa syukur tetap memiliki tempat dalam perjalanan iman.
Ia juga menegaskan bahwa kehidupan yang diterima dari Tuhan selayaknya dijalani bagi Tuhan dan untuk kemuliaan nama-Nya.
Kolaborasi dalam Pujian dan Penyembahan
Perjalanan lagu “Dangke Par Hidop” tidak berhenti pada pengalaman pribadi penciptanya. Karya ini kemudian hadir melalui kolaborasi bersama Pendeta Weli Arkauntu, seorang hamba Tuhan yang disebut Ps. Jimmy sebagai sosok yang rendah hati dan memiliki pengalaman dalam pelayanan pujian dan penyembahan (praise and worship).
Ps. Jimmy mengungkapkan rasa syukur karena dapat berkolaborasi dengan Weli Arkauntu. Ia juga menyampaikan bahwa ada banyak hal yang dipelajarinya dari sosok tersebut, termasuk dalam perjalanan pelayanan dan penciptaan lagu.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pesan iman yang dapat dinikmati dan direnungkan oleh lebih banyak orang. Sebuah pengalaman pribadi yang sebelumnya menjadi pergumulan dalam doa kini dapat dibagikan melalui musik, sehingga pendengar lain pun berkesempatan menemukan penguatan melalui pesan yang terkandung di dalamnya.
Resmi Dirilis, Membawa Pesan Syukur bagi Banyak Orang
Setelah melalui perjalanan tersebut, lagu “Dangke Par Hidop” resmi dirilis di YouTube pada 15 Oktober 2026. Sementara itu, menurut keterangan Ps. Jimmy, lagu tersebut juga dijadwalkan hadir di berbagai platform digital musik pada 1 atau 2 November 2026.
Bagi Ps. Jimmy, kehadiran lagu ini bukan semata-mata tentang sebuah karya yang telah dipublikasikan. Ia berharap “Dangke Par Hidop” dapat menjadi berkat, menguatkan iman, dan mengingatkan setiap pendengar bahwa Tuhan tetap menyertai umat-Nya dalam berbagai keadaan.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada semua orang yang telah mendengarkan, menyukai, membagikan, memberikan komentar, dan terus mendukung karya tersebut.
Dari Pergumulan Pribadi Menjadi Kesaksian Iman
Kisah “Dangke Par Hidop” memperlihatkan bahwa sebuah lagu dapat menjadi lebih dari sekadar rangkaian lirik dan melodi. Lagu ini merupakan bagian dari perjalanan seorang hamba Tuhan yang menghadapi ketakutan, memilih tetap berdoa, dan menemukan alasan untuk kembali mengucap syukur.
Pengalaman Ps. Jimmy Titahena menjadi pengingat bahwa iman bukan berarti manusia tidak pernah merasa takut. Iman justru diuji ketika ketakutan hadir, ketika jawaban belum sepenuhnya terlihat, dan ketika seseorang harus belajar menyerahkan kekhawatirannya kepada Tuhan.
Dari pengalaman itulah, ucapan syukur menemukan kedalaman maknanya. Bukan hanya karena pertolongan telah datang, melainkan juga karena ada keyakinan bahwa Tuhan tetap menjadi sumber pengharapan dalam setiap musim kehidupan.
Melalui “Dangke Par Hidop”, Ps. Jimmy Titahena membagikan pesan sederhana kepada siapa pun yang sedang menjalani pergumulan: jangan biarkan ketakutan mengambil alih seluruh kehidupan. Tetaplah berdoa, tetaplah memuji Tuhan, dan jangan melupakan berkat kehidupan yang masih dianugerahkan.
Sebab, selama kehidupan masih diberikan, selalu ada alasan untuk bersyukur.
Dangke par hidop, dangke par berkat. Terima kasih untuk kehidupan, terima kasih untuk berkat. Sebuah ungkapan sederhana yang lahir dari pergumulan, tumbuh melalui doa, dan kini menjadi kesaksian iman bagi banyak orang.



































