Di balik hiruk pikuk modernitas, ada sebuah nyanyian adat yang terancam punah. Mainoro, tradisi lisan Suku UPA,A atau KOA, semakin jarang terdengar. Padahal, nyanyian ini memiliki makna sosial budaya yang sangat penting sebagai media komunikasi antar sesama warga dan antarkampung.
Larut malam, ketika alam mulai tenang, suara Mainoro biasanya terdengar syahdu dan lembut. Tanpa iringan alat musik, nyanyian ini menyatu dengan hembusan angin alam, menghadirkan suasana melankolis yang mendalam. Mainoro bukan hanya sekedar nyanyian, tapi juga ungkapan perasaan cinta dan relasi harmonis antara manusia dan alam.
Pamong Budaya Kantor Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX, Santy Nurlette dalam catatannya menemukan bahwa seiring dengan perubahan zaman, Mainoro kini semakin jarang dilantunkan.

“Minimnya pewarisan kepada generasi muda membuat tradisi ini terancam punah. Pemerintah dan masyarakat adat harus bersinergi untuk melestarikan Mainoro sebagai warisan budaya yang berharga,”ungkapnya.
“Pelestarian Mainoro bukan semata upaya menjaga sebuah nyanyian adat, melainkan juga menjaga identitas, memori kolektif, serta kearifan lokal masyarakat Suku UPA,A atau KOA,” kata salah satu tetua adat.
Mari kita bersama-sama melestarikan Mainoro, agar nyanyian adat ini tidak hilang ditelan zaman.


















