Ambon — Di sebuah panggung sederhana, denting tifa mulai terdengar, perlahan lalu menguat. Para penari berdiri berbaris, tangan saling merangkul, membentuk satu kesatuan yang tak terpisahkan. Di barisan paling depan, seorang penari bergerak lebih dinamis—ia adalah Ayowane, muka perahu yang seakan membelah ombak, meski berpijak di daratan.
Bagi masyarakat Masela di Maluku Barat Daya, perahu bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah napas kehidupan. Dari lautlah mereka hidup, berlayar, bahkan berperang. Perahu menjadi simbol kekuatan, kejayaan, sekaligus harapan. Maka tak heran, simbol itu kemudian hidup dan bergerak dalam Tari Seka—sebuah tarian yang bukan hanya untuk ditonton, tetapi untuk dirasakan.
Gerakan Ayowane menjadi pusat dari seluruh komposisi. Ia berdiri di depan, memimpin irama, memberi energi bagi penari lain yang membentuk badan (ayoklone) dan buritan (ayoulir). Gerakannya lincah, kadang menghentak, kadang mengalun seperti gelombang laut yang tak pernah benar-benar diam. Dalam setiap langkahnya, tersirat perjalanan panjang masyarakat yang menggantungkan hidup pada laut.
Namun, Tari Seka tidak berhenti pada estetika gerak. Di balik formasi yang rapi dan irama yang padu, tersimpan filosofi yang dalam. Masyarakat Masela percaya, jika bagian depan perahu terlepas, maka perahu akan kehilangan arah—bahkan tenggelam. Begitu pula kehidupan. Tanpa kebersamaan, tanpa ikatan yang kuat, segalanya bisa runtuh.
Itulah sebabnya para penari saling merangkul. Tangan yang terikat bukan sekadar bagian dari koreografi, melainkan simbol solidaritas. Mereka bergerak sebagai satu tubuh, satu jiwa. Jika satu goyah, yang lain akan ikut terpengaruh. Dalam tarian itu, terlihat jelas bagaimana masyarakat Masela memaknai hidup: saling menopang, saling menjaga.
Irama tifa—praya yang besar dan kiwla yang kecil—menghidupkan suasana. Ketukan yang berulang seperti denyut nadi, mengiringi setiap gerakan kaki yang dikenal dengan sek. Di sanalah harmoni tercipta. Bahkan, dalam setiap denting dan gerak, terselip peran perempuan sebagai sumber semangat—sebuah penghormatan terhadap kekuatan yang sering tak terlihat, namun selalu terasa.
Di sisi lain, kain basta yang dikenakan para penari membawa cerita lain. Ia bukan asli dari Masela, melainkan hasil perjumpaan budaya melalui perdagangan di Banda Neira. Namun justru di situlah letak keindahannya. Masyarakat Masela tidak menolak pengaruh luar, melainkan merangkulnya, mengolahnya, lalu menjadikannya bagian dari identitas mereka.
Kini, Tari Seka tidak hanya hadir dalam ruang-ruang adat, tetapi juga tampil di berbagai panggung kebudayaan. Ia menjadi wajah Masela—sebuah identitas yang bercerita tentang laut, tentang perjalanan, dan tentang kebersamaan.
Dan ketika Ayowane bergerak di depan, membelah ruang seperti haluan perahu membelah ombak, kita diingatkan bahwa hidup, seperti perahu, hanya akan sampai tujuan jika semua bagian tetap terikat kuat dalam satu arah yang sama.

































