SAPARUA (MALUKU TENGAH)–Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, ada sebuah kisah yang membuat hati kita terenyuh. Fransina Tamaela, seorang lansia berusia 77 tahun, hidup dalam kondisi memprihatinkan bersama cucunya yang masih berusia 10 tahun di sebuah gubuk sederhana di dalam kawasan hutan Desa Haria, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah.
Gubuk berukuran 5 x 5 meter persegi itu beratapkan daun rumbia, berdinding gaba-gaba, dan beralaskan tanah. Tanpa penerangan, tanpa fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK), dan rawan bocor serta tergenang air saat musim hujan. Keduanya masih bergantung pada bantuan warga sekitar untuk kebutuhan air minum.
Fransina, yang menderita asam lambung dan asam urat, tidak lagi mampu mencari hasil kebun sebagaimana sebelumnya. Mereka hanya mengandalkan hasil kebun seperti pisang, singkong, atau papeda (sagu), bahkan kerap kali tanpa lauk pauk. Pada kondisi tertentu, mereka dilaporkan pernah tidak makan sama sekali.
Cucunya, Ipan Tamaela, anak yatim yang masih berstatus pelajar Sekolah Dasar, harus menghadapi keterbatasan ekonomi keluarga yang berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan dasar anak, termasuk asupan gizi dan perlengkapan sekolah.
Seperti yang dilansir oleh liputanmalteng.co.id, Jumat, (30/01/2026) Pendamping Rehabilitasi Sosial telah melakukan asesmen awal dan berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat. Kebutuhan mendesak telah diidentifikasi, di antaranya pembangunan rumah layak huni, pemenuhan bantuan kebutuhan pokok, penyediaan fasilitas MCK, serta dukungan perlengkapan sekolah bagi anak.
Kisah Fransina Tamaela adalah panggilan bagi kita semua untuk bertindak. Mari kita bantu mereka yang membutuhkan. Pemda Maluku Tengah, tolong perhatikan kasus ini,”seru Ano Thio, pegiat sosial yang sempat mendengar cerita pilu ini.(Red)


























