FOKUS GM

Home / Berita

Rabu, 18 Maret 2026 - 17:51 WIB

Pawai Ogoh-Ogoh di Ambon Gaungkan Pesan Persaudaraan dan Pengendalian Diri

Ambon – Suasana penuh makna dan kebersamaan mewarnai kawasan Gong Perdamaian Kota Ambon dalam pelaksanaan pawai ogoh-ogoh yang digelar untuk menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Kegiatan ini tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga sarat dengan pesan moral tentang pentingnya persaudaraan antarumat manusia.

Acara yang dihadiri oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, pimpinan lembaga, umat Hindu, serta masyarakat umum Kota Ambon ini dibuka dengan pujian syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa.

Mengusung tema “Wasidewa Tuntuka”, perayaan tahun ini menegaskan bahwa umat manusia sejatinya merupakan satu keluarga besar yang hidup di bumi yang sama. Dalam sambutannya, Dr. Ida Bagus pada Rabu (18/03/2026) menyampaikan bahwa nilai toleransi, kerukunan, dan penghormatan terhadap perbedaan merupakan fondasi utama dalam menjaga keharmonisan kehidupan bersama.

“Ketika kita menjalani toleransi, merawat kerukunan, dan menghormati perbedaan, sesungguhnya kita sedang menjaga rumah bersama umat manusia,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa ogoh-ogoh bukan sekadar patung raksasa yang ditampilkan secara meriah, melainkan simbol refleksi diri manusia. Dalam ajaran Hindu, ogoh-ogoh menggambarkan energi negatif yang tidak seimbang, baik dalam diri individu maupun dalam kehidupan sosial.

Baca Juga  Pemkot dan DPRD Kota Ambon Menyetujui KUA & PPAS APBD 2026

“Ogoh-ogoh bukanlah gambaran tentang makhluk di luar manusia, tetapi cermin dari sisi gelap manusia itu sendiri,” jelasnya.

Dalam pawai tersebut, ditampilkan dua simbol utama, yakni Buto Ijo yang melambangkan nafsu liar, keserakahan, kemarahan, serta kekuasaan tanpa kendali. Sementara itu, Buta Lari berwarna merah menggambarkan sifat manusia yang belum matang secara spiritual, ego yang besar, emosi yang mudah terpancing, serta kecenderungan menyalahkan orang lain.

Kedua simbol ini menjadi pengingat bahwa konflik yang terjadi di dunia kerap berakar dari ketidakmampuan manusia mengendalikan dirinya sendiri.

Menurut tradisi Hindu, ogoh-ogoh tidak untuk dipuja, melainkan sebagai sarana introspeksi dan penyadaran diri. Pesan ini dinilai semakin relevan di era modern, di mana kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kekuatan moral dan spiritual.

Setelah pawai, umat Hindu akan memasuki Hari Raya Nyepi, yang dikenal sebagai hari hening. Lebih dari sekadar tidak menyalakan lampu atau bepergian, Nyepi dimaknai sebagai momentum perenungan mendalam di tengah dunia yang semakin bising.

Baca Juga  Ketua TP-PKK SBB Lakukan Kunjungan Perdana, Ini Yang Disampaikan Ny. Yeni Rosbayani Asri

“Nyepi adalah peradaban keheningan di tengah hiruk pikuk informasi, persaingan, dan ambisi,” ungkapnya.

Pada hari tersebut, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, yakni tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak menikmati hiburan sebagai bentuk latihan pengendalian diri.

“Kekuatan manusia yang paling besar bukanlah kekuatan menguasai orang lain, tetapi kekuatan menguasai diri sendiri,” tegasnya.

Sebelumnya, pada Selasa (17/03/2026), umat Hindu telah melaksanakan upacara Melasti untuk menyucikan diri dan alam semesta. Ritual ini mengajarkan pentingnya membersihkan tidak hanya tubuh, tetapi juga pikiran, hati, dan perilaku.

Perayaan Nyepi yang kini memasuki tahun ke-20 di Ambon juga dirangkaikan dengan berbagai kegiatan sosial, seperti pembagian takjil, donor darah, dan penanaman pohon. Hal ini menunjukkan bahwa nilai spiritualitas tidak hanya diwujudkan dalam ibadah, tetapi juga dalam kepedulian terhadap sesama dan kelestarian lingkungan.

Dengan semangat persaudaraan dan introspeksi diri, perayaan Nyepi di Ambon tahun ini menjadi pengingat bahwa kedamaian dunia berawal dari kedamaian dalam diri setiap manusia.

Share :

Baca Juga

Berita

Api Berhasil Dipadamkan, Damkar Pastikan Kebakaran di Kelurahan Uritetu Dipicu Arus Pendek

Berita

Rumah di Kelurahan Uritetu Terbakar, Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki

Berita

Gubernur Maluku Buka LK III HMI Nasional, Tegaskan Kader HMI Harus Jadi Solusi Krisis dan Penggerak Pembangunan

Berita

PLTS Puskesmas Ambon Disorot, Dinkes Buka Fakta: Anggaran Bukan Rp7 Miliar, Kerusakan Murni Persoalan Teknis

Berita

Wali Kota Ambon: LK III HMI Harus Cetak Pemimpin Bangsa yang Visioner dan Berkualitas

Berita

Saiful Chaniago: LK III HMI Harus Lahirkan Pemimpin Visioner untuk Kemajuan Maluku

Berita

Komisi III DPRD Maluku Soroti Utang Subsidi Perumda Panca Karya, Minta Evaluasi Menyeluruh Kinerja Perusahaan

Berita

Unpatti Tegaskan Komitmen Perangi Narkoba, Dukung Gerakan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045