Ambon, GlobalMaluku.id – Universitas Pattimura (Unpatti) menegaskan bahwa keberadaan Proyek Abadi LNG Blok Masela harus menjadi momentum besar untuk mendorong kesejahteraan masyarakat Maluku, bukan sekadar menghadirkan investasi dan pembangunan infrastruktur semata.
Penegasan itu disampaikan Rektor Universitas Pattimura, Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd., saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Ekosistem Rantai Pasok Berbasis Peningkatan Kapasitas Penyedia Barang dan Jasa untuk Menunjang Proyek Abadi LNG Blok Masela, hasil kerja sama Universitas Pattimura dan INPEX Masela Ltd., yang berlangsung di Swiss-Belhotel Ambon, Kamis (11/6/2026).
Menurut Rektor, Proyek Abadi LNG Blok Masela merupakan salah satu proyek strategis nasional yang memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan energi Indonesia sekaligus menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.
“Pengembangan ekosistem rantai pasok harus mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Maluku. Keberhasilan proyek ini tidak hanya diukur dari besarnya investasi atau infrastruktur yang dibangun, tetapi juga sejauh mana masyarakat lokal dapat terlibat dan memperoleh manfaat langsung,” tegas Leiwakabessy.
Ia menjelaskan, sejalan dengan konsep Kampus Berdampak yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, perguruan tinggi kini dituntut tidak hanya menghasilkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan solusi konkret terhadap berbagai tantangan pembangunan daerah.
Dalam mendukung kesiapan Maluku menghadapi proyek raksasa tersebut, Universitas Pattimura bersama INPEX Masela Ltd. telah melaksanakan sejumlah kajian strategis, mulai dari studi kesiapan vendor lokal, kesiapan sumber daya manusia, hingga survei rantai pasok dan peluang pengadaan lokal.
Kajian tersebut bertujuan memastikan pelaku usaha lokal mampu memenuhi standar industri migas, sekaligus mempersiapkan tenaga kerja Maluku agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan proyek.
Selain itu, survei rantai pasok juga mengidentifikasi potensi sektor pangan dan berbagai komoditas lokal yang dapat menjadi bagian dari kebutuhan operasional proyek di masa mendatang.
INPEX: Masyarakat Maluku Harus Menjadi Pelaku Utama
Sementara itu, VP SCM & IMT INPEX Masela Ltd., Rudi Imran, mengatakan pengembangan ekosistem rantai pasok merupakan langkah penting untuk membangun pemahaman bersama mengenai kesiapan daerah dalam menyambut Proyek Abadi Masela.
Menurutnya, ada tiga aspek utama yang menjadi perhatian dalam diskusi tersebut, yakni kesiapan tenaga kerja lokal, kesiapan pelaku usaha dan penyedia barang serta jasa, serta ketersediaan bahan pangan dan kebutuhan logistik lainnya.
“Ketiga aspek tersebut sangat menentukan sejauh mana masyarakat Maluku dapat berpartisipasi dan memperoleh manfaat langsung dari Proyek Abadi Masela,” ujar Rudi.
Ia mengaku optimistis melihat antusiasme para peserta yang hadir dalam FGD tersebut. Respons positif yang muncul menunjukkan adanya kesadaran kolektif untuk mulai menyelaraskan berbagai program pembangunan dengan kebutuhan proyek yang akan memasuki tahap konstruksi.
Rudi menegaskan bahwa keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari produksi energi yang dihasilkan, tetapi juga dari dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat.
“Kami berharap hasil diskusi ini dapat menginisiasi langkah-langkah konkret dari pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan agar masyarakat Maluku siap mengambil peran strategis saat proyek memasuki fase konstruksi,” katanya.
Pemprov Maluku Soroti Ketergantungan Pasokan dari Luar Daerah
Pemerintah Provinsi Maluku melalui Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Maluku, Kasrul Selang, mengingatkan bahwa pengembangan rantai pasok lokal merupakan tantangan besar yang harus segera dijawab.
Menurutnya, hingga saat ini sebagian besar kebutuhan pangan dan komoditas strategis di Maluku masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Kasrul mencontohkan kebutuhan telur untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan asumsi terdapat sekitar 100 ribu penerima manfaat di Kota Ambon dan setiap siswa menerima dua butir telur setiap minggu, kebutuhan telur dapat mencapai sekitar 200 ribu butir per minggu.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa kita harus mulai mempersiapkan kapasitas produksi lokal secara serius agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat maupun kebutuhan proyek-proyek besar yang akan hadir di Maluku,” tegasnya.
Ia berharap hasil kajian dan FGD tersebut dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan ekonomi daerah yang lebih terarah sekaligus memperkuat kesiapan pelaku usaha, petani, peternak, dan masyarakat dalam memanfaatkan peluang ekonomi yang akan hadir melalui Proyek Abadi Masela.
Bangun Kolaborasi Menuju Maluku yang Siap Menyambut Blok Masela
FGD dibuka secara resmi melalui pemukulan tifa oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Maluku bersama Rektor Universitas Pattimura, VP SCM & IMT INPEX Masela Ltd., serta Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Sistem Informasi Universitas Pattimura.
Kegiatan ini diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Pemerintah Provinsi Maluku, DPRD Provinsi Maluku, SKK Migas, Bank Indonesia, INPEX Masela Ltd., pemerintah kabupaten, organisasi profesi, BUMN, BUMD hingga berbagai unsur masyarakat.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha dan masyarakat, Maluku diharapkan mampu membangun ekosistem rantai pasok yang kuat, berkelanjutan, dan mampu menjadikan Proyek Abadi LNG Blok Masela sebagai lokomotif kesejahteraan bagi masyarakat di daerah penghasil.





































