AMBON – Yayasan Pohon Sagoe Maluku terus menunjukkan komitmennya dalam membangun karakter generasi muda melalui program Child Community Hero, sebuah program pendidikan karakter yang telah dijalankan sejak 2023 di sejumlah sekolah dasar di Kota Ambon.
Ketua Yayasan Pohon Sagoe Maluku, Emmanuel Lawalata, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk membentuk anak-anak yang mengenal diri sendiri, menghargai sesama, serta peduli terhadap lingkungan.
“Program Child Community Hero mengusung tema besar ‘Beta Ale Katong Samua Berharga’. Selama tiga bulan, anak-anak akan mengikuti tiga modul pembelajaran, yaitu mengenali diri sendiri, memahami orang lain dengan berbagai perbedaannya, dan belajar menjadi pribadi yang mampu memberi dampak positif bagi lingkungan,” ujarnya.
Sejak diluncurkan, program ini telah diterapkan di sejumlah sekolah dasar, di antaranya SD Negeri Silale, SD Kristen Nania, serta beberapa sekolah lainnya di Kota Ambon. Pada tahun 2026, program tersebut kembali diperluas ke sekolah-sekolah lain untuk menjangkau lebih banyak peserta didik.
Emmanuel mengungkapkan, lahirnya Yayasan Pohon Saoe berawal dari pengalaman tiga pendirinya yang menempuh pendidikan di Universitas Kristen Petra Surabaya. Bersama Ega Patiasina dan Tirsa Kailola, mereka mempelajari konsep pendidikan karakter dan kemudian mengadaptasinya agar sesuai dengan konteks sosial dan budaya Maluku.
“Kami lahir dan besar di Maluku. Karena itu kami ingin menghadirkan model pendidikan karakter yang relevan dengan kebutuhan anak-anak Maluku,” katanya.
Selain program untuk anak, Yayasan Pohon Sagor juga memiliki tiga program utama lainnya, yakni pelatihan guru agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, pelatihan digital bagi pemuda untuk meningkatkan keterampilan sekaligus membuka peluang memperoleh penghasilan, serta program community development yang menyasar sektor pendidikan dan kesehatan.
Melalui program community development, yayasan bekerja sama dengan Universitas Katolik Chile di Amerika Selatan. Dalam dua tahun terakhir, mereka berhasil membangun sistem air bersih di salah satu dusun adat di Pulau Buru dan pada tahun ini dipercaya membangun 25 rumah di Desa Horale, Seram Utara Barat.
Sementara itu, program pelatihan digital bagi pemuda telah berjalan sejak 2023 melalui kerja sama dengan British Council Indonesia. Hingga kini, sejumlah peserta telah berhasil memanfaatkan keterampilan digital yang diperoleh untuk memperoleh penghasilan.
Ke depan, Emmanuel berharap pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan dan DPRD, dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan komunitas maupun yayasan yang aktif mendampingi anak-anak.
Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak sangat penting agar arah pembangunan pendidikan di Maluku dapat dirancang secara bersama dan memiliki landasan kebijakan yang kuat.
“Kami berharap ada ruang diskusi bersama antara pemerintah, legislatif, dan komunitas. Banyak organisasi yang telah bekerja langsung di lapangan dan memiliki pengalaman yang bisa menjadi masukan bagi pengembangan pendidikan di Maluku,” pungkasnya.












































