Home / Berita

Senin, 19 Mei 2025 - 17:48 WIB

Kaibobo Menolak Masuknya Maluku Intregreat Port

PIRU-Ketika Pemerintah Daerah lagi giat-giatnya untuk mensosialisasi masuknya Maluku Integrated Port atau Pelabuhan Terpadu,yang rencananya akan dibangun dilokasi bekas perusahan Djayanti Group, sadar dengan tidak sadar, Pemerintah Daerah(Pemda) sendiri telah menciptakan ketersinggungan ditengah-tengah masyarakat, terutama masyarakat yang merasa bahwa lokasi Djayanti Group ini adalah ulayat adat mereka.

Hal ini di sampaikan Raja Kaibobu Alex Kuhuwael pada media ini,Senin(19/5/2025).

Kebijakan Pemerintah daerah untuk meminta dukungan vidio dari desa Kamal dan desa Waesarisa itu sudah betul, jika perlu mulai dari Waesarisa sampai Waepirit, semua harus melakukan hal yang sama agar gaunnya besar dan bisa mendapatkan simpatik dari pemerintah pusat (Pempus)dan yang lebih betul lagi apabila pemerintah daerah itu tahu adat, suara juga orang yang punya ulayat, ujar Kuhuwael.

Akibat dari ketidak pahaman pemerintah daerah, negeri Kaibobu merasa tersinggung dan seakan tidak dihormati selaku yang punya ulayat, sehingga mereka mengambil langkah penolakan masuknya Maluku Itergreat Port ke wilayah ulayat kaibobo, harus diakui bahwa,
secara atministratif, bekas perusahan Djayanti Group itu ada pada desa Waesarisa dan Kamal, tapi secara adat, itu ulayat negeri kaibobu.

Baca Juga  Polres SBB Gelar Pelatihan Pra Operasi Kepolisian Sandi Simpatik Salawaku 2024

Dalam berita acara rapat koordinasi terkait pembangunan proyek strategis nasional di wilayah adat negeri kaibobu pada tanggal 17 Mey 2025, bertempat di kantor raja negeri kaibobu, Kecamatan Seram Barat, kabupaten Seram Bagian Barat, SBB) telah dilaksanakan musyawarah atau rapat koordinasi dalam rangka membahas persoalan terkait pembangunan proyek strategis nasional tersebut, yang akan dibangun dilokasi Waesarisa (bekas perusahan Djayanti Group) yang mana daerah ini adalah hak ulayat negeri Kaibobo.

Rapat tersebut dihadiri oleh pemerintah desa, BPD, bersama para tokoh adat,tokoh agama dan tokoh masyarakat serta masyarakat lainnya, yang berlangsung secara demokratis, berdasarkan azas musyawarah untuk mufakat, dan akhirnya diputuskan dua poin tuntutan yang menjadi keputusan bersama antara lain.
1. Melakukan audens dengan pemerintah daerah dalam rangka memperjuangkan hak negeri Kaibobo sebagai pemilik tanah berdasarkan hak ulayat adat pada lokasi yang akan dipakai untuk pembangunan proyek strategis nasional tersebut.
2. Apa bila poin satu diatas tidak diperhatikan oleh pemerintah daerah maka, pemerintah negeri, BPD, para tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat serta masyarakat negeri Kaibobo akan mengambil sikap tegas yang diawali dengan pelaksanaan ritual adat pada lokasi pembangunan dimaksud.
3.
Kuhuawsel juga menambahkan, SBB ini daerah adat, untuk itu pemerintah daerah harus tahu adat, kalau sampai tidak tahu adat, kami masyarakat Kaibobo sangat ragu dengan pemerintah yang dipimpin oleh Bupati Asri Arman dan Wakul Bupati Selfinus Kainama, tutup sumber.

Share :

Baca Juga

Berita

Pemerintah Kota Ambon Salurkan 100 Hewan Kurban untuk Idul Adha 1447 H

Berita

Kejati Maluku Kembali Wujudkan Perdamaian Lewat Mekanisme Keadilan Restoratif

Berita

Walikota Ambon Letakkan Batu Penjuru Pembangunan Pastori 1 Jemaat GPM Nazareth

Berita

Universitas Pattimura Peringati Harkitnas ke-118, Rektor Sampaikan Pesan Penting Soal Kedaulatan Digital

Berita

Universitas Pattimura Resmi Luncurkan Aplikasi E-Procurement, Perkuat Transparansi dan Tata Kelola Modern

Berita

Universitas Pattimura Perkuat Akses Karier Global Lewat Peluncuran Program Vokasi & Tren Industri Bersama YAIJ Foundation

Berita

BRI Masohi & Brigif 27 Nusa/Ina Panaskan Pagi Kota Masohi Lewat Olahraga Bareng: Sinergi Perbankan–Militer Kian Solid

Berita

UNPATTI Raih Empat Penghargaan Bergengsi di Faperta Fair 9, Mahasiswa Fisika Harumkan Nama Kampus di Kancah Nasional