AMBON – Universitas Pattimura (Unpatti) kembali menambah deretan tenaga medis yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan. Sebanyak 15 dokter lulusan ke-39 Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura resmi diambil sumpah dan dilantik pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Dengan bertambahnya 15 dokter tersebut, total lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura hingga kini telah mencapai 723 dokter.
Momentum pengambilan sumpah dan pelantikan itu tidak sekadar menjadi penanda berakhirnya pendidikan profesi, tetapi juga menjadi titik awal bagi para lulusan untuk mengabdikan ilmu dan kompetensinya kepada masyarakat.
Rektor Universitas Pattimura, Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd., mengatakan keberhasilan para dokter yang dilantik merupakan buah dari proses pendidikan yang panjang dan penuh tantangan.
Menurutnya, pencapaian tersebut tidak terlepas dari perjuangan, pengorbanan, doa, serta dukungan orang tua dan keluarga yang terus mengiringi perjalanan para lulusan hingga mencapai tahap profesi sebagai dokter.
Namun, Rektor menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan kedokteran.
Lebih dari sekadar menghasilkan dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk melahirkan tenaga medis yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau di Maluku.
“Sebagai institusi pendidikan kedokteran yang berada di wilayah kepulauan, Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura memiliki visi untuk melahirkan ‘dokter pulau’, yakni dokter yang tidak hanya memiliki kompetensi klinis, tetapi juga memiliki empati, tanggung jawab, ketahanan mental, serta motivasi untuk memberikan pelayanan kesehatan di wilayah pesisir dan pulau-pulau,” ungkap Fredy.
Ia menjelaskan, komitmen melahirkan “dokter pulau” sejalan dengan prinsip social accountability dalam pendidikan kedokteran.
Artinya, pendidikan dokter tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan kompetensi klinis, tetapi juga membentuk lulusan yang mampu memahami kondisi sosial masyarakat serta memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Jaga Mutu Sejak Penerimaan hingga Kelulusan
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura, dr. Farah Christina Noya, M.HPEd., Ph.D., menegaskan komitmen institusinya dalam menjaga mutu pendidikan kedokteran sejak proses penerimaan mahasiswa hingga tahapan kelulusan.
Menurutnya, setiap mahasiswa kedokteran wajib memenuhi standar akademik dan kompetensi yang telah ditetapkan.
“Evaluasi dilakukan secara berkelanjutan pada berbagai tahapan pendidikan untuk memastikan mahasiswa mampu mencapai standar yang dipersyaratkan dalam pendidikan kedokteran,” ujarnya.
Kebijakan tersebut, kata Farah, merupakan bagian dari upaya Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura menjaga kualitas lulusan.
Dokter yang dihasilkan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik dan klinis, tetapi juga harus mempunyai kesiapan mental serta menjunjung tinggi etika profesi dalam menjalankan tanggung jawab sebagai tenaga medis.
Karena itu, Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura tidak semata-mata mengejar jumlah dokter yang diluluskan. Kualitas dan karakter lulusan menjadi perhatian utama agar setiap dokter mampu memenuhi tuntutan profesi sekaligus menjaga keselamatan pasien dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Maluku Mulai Petakan Kebutuhan Dokter
Persoalan pemerataan tenaga dokter juga mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Maluku.
Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath, menyoroti kebutuhan tenaga dokter di Maluku yang memiliki karakteristik geografis sebagai provinsi kepulauan.
Menurutnya, kebutuhan dokter tidak bisa dilihat hanya berdasarkan jumlah penduduk, tetapi juga harus mempertimbangkan kondisi geografis dan sebaran wilayah pelayanan kesehatan.
Untuk itu, Pemerintah Provinsi Maluku mulai melakukan pemetaan kebutuhan tenaga dokter di seluruh kabupaten/kota.
Pemetaan tersebut diperlukan untuk memperoleh gambaran riil mengenai jumlah dokter yang dibutuhkan sekaligus menentukan penempatan tenaga medis secara lebih tepat.
Wakil Gubernur meminta Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku berkoordinasi dengan seluruh Kepala Dinas Kesehatan pada 11 kabupaten/kota untuk melakukan pemetaan kebutuhan dokter di masing-masing wilayah.
Langkah ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam mendorong pemerataan tenaga kesehatan sekaligus memperkuat pelayanan kesehatan hingga ke wilayah-wilayah kepulauan dan daerah terpencil.
Dengan lahirnya 15 dokter baru, Unpatti kembali menegaskan perannya bukan hanya sebagai lembaga pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai bagian penting dalam menjawab tantangan pembangunan kesehatan di Maluku.
Para dokter lulusan ke-39 Fakultas Kedokteran Unpatti kini diharapkan mampu membawa kompetensi, integritas dan semangat pengabdian ke tengah masyarakat—terutama mereka yang berada di pesisir dan pulau-pulau yang selama ini menghadapi tantangan akses pelayanan kesehatan.
Dari kampus di Ambon, Unpatti ingin memastikan dokter tidak hanya lahir untuk bekerja di kota, tetapi juga siap hadir dan mengabdi di pulau-pulau.





































