AMBON – Dinamika menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar di Kota Ambon kembali memanas. Sejumlah kader mengungkap adanya dugaan tekanan dan upaya penggiringan opini dengan mencatut nama Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, dalam proses konsolidasi internal partai.
Menurut informasi yang berkembang di kalangan kader, nama Bahlil disebut-sebut untuk mempengaruhi arah dukungan menjelang agenda Musda. Kondisi tersebut memicu keresahan karena dinilai berpotensi mengganggu proses demokrasi internal yang seharusnya berlangsung secara terbuka dan bermartabat.
Sejumlah kader menegaskan bahwa setiap peserta Musda memiliki hak politik yang sama untuk menentukan pilihan tanpa tekanan dari pihak mana pun. Mereka berharap kompetisi menuju pemilihan kepengurusan partai dapat berlangsung sehat dan mengedepankan mekanisme organisasi.
“Jangan membawa-bawa nama Ketua Umum untuk kepentingan kelompok tertentu. Biarkan kader menentukan sikap berdasarkan kapasitas dan rekam jejak calon yang akan memimpin partai ke depan,” ungkap salah satu kader yang mengikuti perkembangan Musda.
Situasi ini muncul di tengah meningkatnya tensi politik internal Golkar menjelang agenda Musda yang menjadi momentum penting untuk menentukan arah kepemimpinan partai di tingkat daerah. Sejumlah pemberitaan sebelumnya juga menunjukkan bahwa dinamika Musda Golkar di Maluku dan Ambon kerap diwarnai perbedaan pandangan serta persaingan antarkelompok kader.
Para kader meminta seluruh pihak menjaga soliditas organisasi dan tidak menciptakan narasi yang dapat memecah belah kekuatan partai. Mereka menilai Musda harus menjadi forum konsolidasi untuk memperkuat Golkar menghadapi agenda politik mendatang, bukan arena saling menekan atau mempertentangkan kader.
Sementara itu, DPP Partai Golkar dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa Musda merupakan sarana evaluasi, konsolidasi, serta regenerasi kepemimpinan partai yang harus berjalan sesuai aturan organisasi dan semangat persatuan.
Kader Golkar Ambon berharap seluruh proses Musda dapat berlangsung demokratis, transparan, dan menghasilkan kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh elemen partai. Mereka juga mengingatkan agar nama Ketua Umum tidak digunakan sebagai alat legitimasi untuk kepentingan kelompok tertentu yang justru berpotensi memperkeruh suasana internal.
Dengan semakin dekatnya pelaksanaan Musda, perhatian publik kini tertuju pada bagaimana Golkar menyelesaikan dinamika internal tersebut sekaligus menjaga soliditas partai di tengah tingginya ekspektasi kader terhadap lahirnya kepemimpinan yang kuat dan mampu membawa partai semakin kompetitif di Maluku.





































