AMBON – Ada luka yang tidak terlihat, tetapi diam-diam menggerogoti semangat dan masa depan anak muda. Ada pula pergumulan yang tidak pernah terucapkan karena tak semua orang memiliki ruang yang aman untuk bercerita.
Berangkat dari kenyataan tersebut, gerakan “Catatan Hati Anak yang Runtuh” hadir bukan sekadar sebagai kegiatan seminar motivasi, tetapi sebagai ruang untuk mendengar, berbagi, memulihkan diri, sekaligus menyalakan kembali harapan generasi muda Maluku.
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 15 Agustus 2026 di Ballroom Hotel Santika Premiere Ambon ini menjadi bagian dari semangat menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan rangkaian menyongsong HUT ke-451 Kota Ambon.
Ketika Anak Muda Tidak Hanya Butuh Motivasi, Tetapi Juga Didengar
Habib Rifqi Alhamid, S.Kom., M.Si., mengatakan gagasan kegiatan tersebut lahir dari keprihatinan terhadap kondisi sebagian generasi muda yang menghadapi tekanan sosial dan persoalan kehidupan di tengah perubahan zaman.
Menurutnya, kemerdekaan harus dimaknai lebih luas. Bukan hanya terbebas dari penjajahan, tetapi juga berani membebaskan diri dari rasa putus asa, luka batin, kehilangan arah dan hilangnya harapan.
Karena itu, konsep kegiatan ini sengaja dibuat berbeda.
Peserta tidak hanya akan duduk mendengarkan pembicara, tetapi diberikan ruang untuk berbicara dan mencurahkan isi hati sebelum mendapatkan motivasi serta pendampingan.
“Kami ingin lebih banyak mendengar daripada berbicara. Kami percaya setiap anak memiliki cerita yang perlu didengar. Dari sanalah proses pemulihan bisa dimulai,” demikian pesan yang disampaikan Habib dalam penjelasan mengenai kegiatan tersebut.
Konsep ini menjadi kekuatan utama “Catatan Hati Anak yang Runtuh”. Sebab, tidak semua anak muda membutuhkan nasihat panjang. Terkadang, mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengar tanpa menghakimi.
Dari Luka Menuju Kebangkitan
Kegiatan ini membawa pesan sederhana namun kuat: luka bukan akhir dari perjalanan hidup.
Setiap kegagalan masih menyisakan pelajaran. Setiap keterpurukan masih membuka kesempatan untuk bangkit. Dan setiap anak muda, seberat apa pun persoalan yang dihadapinya, tetap memiliki masa depan yang layak diperjuangkan.
Selain penguatan karakter, peserta akan mendapatkan pembekalan mengenai nilai kebangsaan, moral, toleransi dan motivasi untuk menjauhi berbagai perilaku yang dapat menghancurkan masa depan, termasuk penyalahgunaan narkoba, minuman keras, kekerasan dan pergaulan yang merusak.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berbicara tentang pemulihan pribadi, tetapi juga tentang bagaimana anak muda dapat kembali menemukan peran positifnya di tengah masyarakat.
Merawat Maluku sebagai Rumah Bersama
Hal menarik lainnya adalah semangat persaudaraan yang menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut.
“Catatan Hati Anak yang Runtuh” terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan suku. Pemuda Muslim maupun Nasrani diharapkan dapat hadir bersama dalam satu ruang persaudaraan.
Pesan yang ingin dibangun jelas: perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh, tetapi kekuatan untuk saling menguatkan.
Panitia bahkan menargetkan sekitar 500 peserta yang berasal dari Kota Ambon, Tulehu, Hitu Mesing, Negeri Liang, Batu Merah dan berbagai daerah lainnya di Maluku.
Di tengah tantangan sosial yang dihadapi generasi muda, ruang seperti ini menjadi penting. Sebab membangun masa depan Maluku tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan generasi yang sehat secara karakter, kuat menghadapi tekanan kehidupan, memiliki kepedulian sosial dan mampu menjaga persaudaraan.
Bukan Mencari Keuntungan, Tetapi Membangun Komitmen
Peserta dikenakan infaq sebesar Rp50 ribu. Panitia menegaskan bahwa kontribusi tersebut bukan bertujuan mencari keuntungan, melainkan menjadi bagian dari komitmen peserta untuk hadir dan mengikuti seluruh proses kegiatan.
Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah acara sehari. Semangat yang dibangun adalah agar peserta pulang membawa sesuatu yang lebih berharga: keberanian untuk menghadapi persoalan, keyakinan bahwa dirinya berharga, serta harapan untuk menata kembali masa depan.
“Catatan Hati Anak yang Runtuh” pada akhirnya bukan sekadar tentang anak-anak muda yang pernah terluka.
Ini tentang bagaimana luka itu tidak dibiarkan menjadi alasan untuk menyerah.
Ini tentang bagaimana mereka diberi ruang untuk bercerita, didengar tanpa dihakimi, dikuatkan dan kemudian diajak berdiri kembali.
Karena terkadang, langkah pertama menuju perubahan bukanlah sebuah nasihat—melainkan seseorang yang bersedia mendengarkan.





































