AMBON, GLOBALMALUKU.ID – Keterbatasan air yang selama ini menjadi salah satu kendala dalam pengolahan pati sagu di Negeri Rutong, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, mulai mendapat solusi.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Jurusan Geologi, Fakultas Teknik Universitas Pattimura (Unpatti) menghadirkan sistem penyediaan sekaligus penyaringan air untuk mendukung kelancaran proses produksi pati sagu yang dilakukan masyarakat setempat.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Marcia Violetha Rikumahu, dalam rilis yang diterima, Selasa (22/9/2026), mengatakan ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan proses produksi pati sagu.
“Program ini dilakukan untuk mengatasi keterbatasan sumber air yang selama ini menjadi salah satu kendala dalam memenuhi kebutuhan air untuk proses produksi pati sagu,” ujar Marcia.
Sebelum program tersebut dilaksanakan, mitra masih mengandalkan sumur lama yang dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan air secara optimal. Kondisi itu kemudian mendorong tim bersama mitra untuk mencari sumber air baru yang lebih memadai.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Tim berhasil menggali sumur baru dengan kedalaman sekitar enam meter yang kemudian dilengkapi pompa air dan jaringan perpipaan untuk mengalirkan air menuju fasilitas produksi.
Tak hanya itu, untuk menjaga ketersediaan pasokan air, tim juga menyediakan tangki penampungan berkapasitas 2.500 liter.
Tak Sekadar Menambah Air, Kualitas Juga Diperhatikan
Persoalan yang dihadapi masyarakat ternyata bukan hanya menyangkut kuantitas air, tetapi juga kualitasnya. Mengingat air digunakan secara langsung dalam proses pengolahan pati sagu, kualitas air menjadi bagian penting yang harus diperhatikan.
Karena itu, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unpatti menerapkan sistem filtrasi tiga tahap, masing-masing menggunakan filter sedimen 10 mikron, filter 0,3 mikron, dan filter CTO.
Sistem tersebut dirancang untuk membantu memperbaiki kualitas fisik air sebelum digunakan dalam proses pengolahan pati sagu.
“Berdasarkan pengamatan fisik, air yang dihasilkan tampak jernih, tidak berwarna, dan tidak berbau,” jelas Marcia.
Sementara itu, hasil pengujian terhadap parameter pH dan Total Dissolved Solids (TDS) menunjukkan air masih berada dalam batas normal.
Menurut Marcia, pembangunan fasilitas tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai solusi jangka pendek. Fasilitas yang telah dibangun perlu dimanfaatkan dan dirawat secara berkelanjutan oleh mitra agar manfaatnya dapat terus dirasakan masyarakat.
Dengan tersedianya sumber air yang lebih memadai serta kualitas air yang lebih baik, proses pengolahan pati sagu di Negeri Rutong diharapkan dapat berjalan lebih lancar.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan dan pemanfaatan potensi sagu sebagai salah satu sumber daya lokal yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Marcia menyampaikan apresiasi kepada Duta Sagu selaku mitra yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan pengabdian tersebut.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Universitas Pattimura melalui pendanaan DIPA Unpatti yang turut mendukung pelaksanaan program Pengabdian kepada Masyarakat tersebut.
Program ini diharapkan tidak hanya menjawab persoalan ketersediaan air dalam proses produksi, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam mendorong pemanfaatan potensi sagu Rutong secara berkelanjutan serta memperkuat rantai produksi sagu berbasis masyarakat di Kota Ambon.






































