Home / Bisnis

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 09:16 WIB

Menembus Ombak Demi KUR: Kisah Asti Alimin Buka Jalan Keuangan untuk Warga Pulau Kelang

SERAM BAGIAN BARAT — Laut bukan penghalang bagi Asti Alimin untuk menghadirkan akses layanan keuangan bagi masyarakat di pelosok Kepulauan Maluku.

Dengan perahu fiber, Mantri BRI dari Unit Piru, Kantor Cabang Masohi, itu menembus perairan Selat Haya menuju Pulau Kelang. Perjalanan tersebut bukan sekadar tugas rutin seorang petugas bank, tetapi bagian dari upaya membuka jalan bagi masyarakat pulau-pulau kecil yang selama bertahun-tahun menghadapi keterbatasan akses perbankan.

Bagi masyarakat Pulau Kelang dan sejumlah pulau kecil lainnya di Kabupaten Seram Bagian Barat, jarak dan kondisi geografis selama ini menjadi tembok besar untuk memperoleh layanan keuangan. Padahal, di balik keterisolasian itu tersimpan potensi ekonomi yang besar.

Asti memilih datang langsung.

Sejak mendapat amanah pada 2020 untuk melayani wilayah yang sebagian besar terdiri atas lautan dan pulau-pulau kecil, Asti menjadikan kedekatan dengan masyarakat sebagai bagian penting dari pekerjaannya.

“Saya mendapat amanah untuk melayani para nasabah sampai pelosok kepulauan,” ujar Asti.

Salah satu wilayah yang kemudian menjadi perhatian seriusnya adalah Pulau Kelang. Banyak masyarakat mengajukan permohonan agar layanan perbankan dapat menjangkau wilayah mereka.

“Ada satu pulau yang baru kami buka layanannya karena banyak permohonan masyarakat yang selama ini terkendala jarak,” ungkapnya.

Namun, membuka akses ke Pulau Kelang jelas bukan pekerjaan mudah.

Dari kantor BRI Unit Piru, Asti harus menempuh perjalanan darat sekitar satu jam menuju Waesala. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan menyeberangi laut selama kurang lebih satu jam menuju pulau utama.

Belum selesai.

Untuk menjangkau kampung-kampung lain yang tersebar di Pulau Kelang, waktu perjalanan masih bisa bertambah sekitar satu jam.

Tantangan semakin berat ketika cuaca berubah. Pada musim barat, gelombang tinggi kerap muncul di perairan Waesala hingga Selat Hayacoba. Kondisi tersebut membuat perjalanan membutuhkan kewaspadaan ekstra.

Namun, Asti tetap datang.

Bukan Sekadar Menawarkan Kredit

Keputusan Asti untuk terus membuka akses layanan keuangan ke pulau terpencil memiliki alasan yang jauh lebih personal.

Saat masih kuliah, ia pernah melihat sendiri keluarganya kesulitan mendapatkan modal usaha. Untuk mencari akses pembiayaan, keluarganya harus bepergian jauh ke Ambon atau Masohi.

Baca Juga  Dekan FK ,Pemerintah Didorong Perbaiki Kualitas Pendidikan di Maluku

Tak jarang mereka pulang dengan tangan kosong karena persoalan jarak dan kondisi geografis.

Pengalaman itu membekas.

Lebih miris lagi, Asti menemukan warga pulau yang menjadi korban penipuan. Mereka diminta menyerahkan uang muka hingga jutaan rupiah dengan iming-iming memperoleh pinjaman. Namun, setelah uang diberikan, pelaku justru menghilang.

“Itu yang jadi motivasi saya. Kasihan orang-orang ini, mereka mampu bekerja tapi mereka ditipu,” katanya.

Karena itu, Asti tidak datang ke masyarakat hanya untuk menawarkan kredit.

Langkah pertama yang dilakukannya justru membangun jaringan BRILink Agen agar masyarakat memiliki tempat untuk melakukan transaksi tanpa harus menyeberang ke kota.

Dari sana, edukasi literasi keuangan mulai dilakukan.

Tantangannya pun beragam. Salah satunya adalah kebiasaan sebagian warga menyimpan uang secara tradisional.

Asti bahkan pernah menemukan nasabah yang menyimpan uang di dalam bantal atau di bawah kasur hingga uang tersebut rusak dimakan tikus.

“Saya bilang ke mereka, jangan disimpan begitu, nanti dimakan tikus tidak laku lagi,” tuturnya sembari terkekeh.

Dari Perahu Kecil, Akses Besar Terbuka

Perlahan, pendekatan tersebut membuahkan perubahan.

Asti turut mengajarkan masyarakat menggunakan layanan perbankan digital seperti BRImo. Ia juga memberikan pemahaman mengenai perbedaan layanan perbankan resmi dengan rentenir agar masyarakat tidak terjebak dalam utang dengan beban yang mencekik.

Dari yang sebelumnya nyaris tanpa akses, kini lebih dari 700 debitur berada dalam wilayah yang dikelolanya.

Namun bagi Asti, angka tersebut bukan ukuran utama keberhasilannya.

Yang jauh lebih penting adalah perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Melalui akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), sejumlah pelaku usaha di Pulau Kelang mulai memiliki kesempatan mengembangkan usaha mereka.

Para nelayan, misalnya, yang sebelumnya hanya mengandalkan mesin kecil, kini dapat membeli mesin dengan tenaga lebih besar.

Dampaknya terasa langsung.

Dengan mesin tersebut, hasil tangkapan ikan maupun hasil bumi seperti jahe, kunyit dan minyak kayu putih dapat dibawa langsung ke Ambon untuk memperoleh harga yang lebih kompetitif.

Masyarakat pun memiliki pilihan lebih besar dan tidak lagi sepenuhnya bergantung kepada tengkulak.

Dampaknya Bahkan Sampai ke Masa Depan Anak-anak

Kisah paling mengharukan bagi Asti justru datang dari sektor pendidikan dan masa depan anak-anak masyarakat pulau.

Baca Juga  New Car Technology May Take The Wheel out of Human Hands

Ia menceritakan, di salah satu kampung terdapat sekitar 28 pemuda yang berhasil lolos menjadi tentara. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari kemampuan orang tua menyediakan modal untuk membiayai persiapan dan pendidikan anak-anak mereka.

Bagi Asti, cerita itu menjadi bukti bahwa akses keuangan bukan sekadar persoalan transaksi perbankan.

Ada masa depan keluarga yang ikut dipertaruhkan di dalamnya.

“Setiap kali dengar mereka bilang, ‘untung ada kamu berani buka akses ke sini’, rasa lelah saya hilang,” kata Asti.

Kalimat itu menjadi semacam bayaran paling berharga atas perjalanan panjangnya menembus laut, menghadapi gelombang dan meninggalkan kenyamanan untuk mendatangi masyarakat yang selama ini berada jauh dari pusat layanan keuangan.

BRI: Inklusi Keuangan Harus Hadir hingga Pelosok

Corporate Secretary BRI, Dhanny, mengatakan keberadaan Mantri BRI di berbagai wilayah menjadi bagian penting dalam memperluas pemerataan layanan keuangan, terutama bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses.

Menurutnya, pendampingan yang konsisten, kedekatan dengan masyarakat dan pemahaman terhadap karakteristik ekonomi lokal menjadi faktor penting agar layanan keuangan tidak berhenti pada pembukaan akses semata, tetapi benar-benar memberikan dampak berkelanjutan.

“Kisah Asti Alimin menjadi cerminan semangat para Mantri BRI dalam menghadirkan layanan keuangan hingga ke pelosok negeri. Di tengah keterbatasan akses dan tantangan alam, BRI membuktikan bahwa selain membuka akses terhadap layanan perbankan, inklusi keuangan juga menghadirkan harapan, mendorong kemandirian, dan membuka peluang bagi masyarakat untuk tumbuh bersama,” tutup Dhanny.

Bagi Asti, harapannya sederhana: perekonomian masyarakat Maluku, khususnya di wilayah kepulauan tempatnya bertugas, dapat berkembang dan memiliki kesempatan yang setara dengan daerah lain di Indonesia.

Ia juga berharap, suatu hari nanti, ketika dirinya tak lagi bertugas di wilayah tersebut, masyarakat Pulau Kelang sudah mampu berdiri di atas kaki sendiri—mandiri secara finansial, akrab dengan teknologi, serta memiliki daya saing ekonomi yang kuat.

Sebab di balik setiap perjalanan menembus ombak, ada satu misi yang lebih besar: memastikan jarak geografis tidak lagi menjadi alasan bagi masyarakat pulau untuk kehilangan kesempatan.

Share :

Baca Juga

Bisnis

PT Pegadaian (Persero) Area Maluku melalui PT Pegadaian (Persero) Kantor Cabang Syariah Ambon Gelar Khitanan Massal Gratis untuk 125 Anak di Maluku, Manfaatkan Libur Sekolah dengan Aksi Sosial

Bisnis

BRI Cabang Masohi Salurkan 5 Ekor Sapi Kurban untuk Masyarakat di Masjid Raya Masohi

Bisnis

DPRD Maluku Resmi Tutup Masa Sidang II dan Buka Masa Sidang III 2026

Bisnis

Kompetisi Pattimura Court Competition Digelar, Mahasiswa Hukum Diharapkan Jadi Agen Perubahan

Bisnis

BRI BO Masohi Pastikan Restrukturisasi hingga Lelang Agunan Berjalan Transparan dan Sesuai Regulasi

Bisnis

Menkomdigi Ajak Bangsa Jaga Tunas Bangsa di Era Digital, Wali Kota Ambon Tegaskan Tidak Ada “Titip Siswa”

Bisnis

Ambon Tembus 10 Besar Kota Paling Toleran di Indonesia 2025, Bukti Harmoni Masyarakat

Bisnis

Dies Natalis ke-56 Fakultas Teknik Unpatti: Perkuat Inovasi dan Siapkan Generasi Engineer Masa Depan