Home / Berita

Senin, 31 Agustus 2026 - 16:01 WIB

BRI Kembali Tancap Gas: Laba Rp31,2 Triliun, Ekonomi Kerakyatan Jadi Mesin Pertumbuhan

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI kembali menunjukkan taringnya di tengah dinamika industri perbankan. Hingga akhir Triwulan II 2026, BRI Group berhasil membukukan laba bersih Rp31,2 triliun, tumbuh 17,5 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Capaian tersebut bukan sekadar angka laba. Di balik pertumbuhan itu, BRI memperlihatkan bagaimana ekspansi bisnis, efisiensi, penguatan kualitas aset, transformasi digital, serta keberpihakan terhadap Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berjalan dalam satu mesin pertumbuhan.

Kinerja tersebut disampaikan Direktur Utama BRI Hery Gunardi, bersama jajaran direksi dalam pemaparan kinerja Triwulan II 2026 di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Senin (31/8/2026).

“Growth Is Back”, tetapi Tetap Prudential

Hery menyebut semester pertama 2026 menjadi momentum penting bagi BRI. Pertumbuhan kembali bergerak kuat, namun perseroan tidak ingin mengejar pertumbuhan secara agresif tanpa memperhatikan kualitas.

“Growth is back. Strong. Kita bisa lihat pertumbuhan profit kita cukup bagus. Sementara kualitas pertumbuhan, dari sisi disiplin pertumbuhan tetap kita jaga,” ujar Hery dalam konferensi pers kinerja Triwulan II 2026.

Menurutnya, prinsip kehati-hatian, manajemen risiko dan tata kelola tetap menjadi fondasi utama dalam setiap ekspansi bisnis.

Secara konsolidasian, total aset BRI hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7 persen yoy. Sementara kredit dan pembiayaan melesat 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun.

Ekspansi kredit tersebut ditopang Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.581 triliun, yang tumbuh 6,7 persen yoy.

Pendapatan Bunga Naik, Efisiensi Makin Kuat

Pertumbuhan bisnis juga tercermin dari pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) yang meningkat 9,9 persen yoy, dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun.

Sementara itu, Pre-Provision Operating Profit (PPOP) tumbuh 12,8 persen menjadi Rp65,7 triliun.

Yang menarik, pertumbuhan tersebut berlangsung bersamaan dengan perbaikan efisiensi. Cost of Fund (CoF) secara bank only turun dari 3,0 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 2,4 persen pada periode yang sama 2026.

Baca Juga  Rasionalisasi APBD 2023 Berdasarkan PMK 212, Miris APBD Kabupaten SBB Belum Di Setujui Oleh DPRD SBB,Ini Kata Ketua Fraksi PDI-P SBB

Cost to Income Ratio (CIR) juga membaik dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen.

Perbaikan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan BRI tidak hanya bertumpu pada ekspansi kredit, tetapi juga pada kemampuan perseroan mengelola biaya dan meningkatkan produktivitas.

Dari sisi kualitas aset, Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,0 persen menjadi 2,9 persen, sedangkan Cost of Credit (CoC) membaik dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.

Di saat yang sama, Return on Equity (ROE) meningkat signifikan dari 16,6 persen menjadi 18,8 persen, sementara Return on Asset (ROA) tetap terjaga di kisaran 2,7 persen.

UMKM Tetap Menjadi “DNA” BRI

Di tengah ekspansi bisnis yang semakin beragam, BRI tidak meninggalkan akar utamanya sebagai bank yang tumbuh bersama ekonomi rakyat.

Hingga akhir Triwulan II 2026, kredit BRI kepada segmen UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun, tumbuh 8,6 persen yoy. Angka tersebut setara dengan 75,1 persen dari total portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group.

Besarnya porsi tersebut menegaskan bahwa UMKM tetap menjadi fondasi utama bisnis BRI.

Hery menegaskan, diversifikasi bisnis yang dilakukan BRI tidak akan mengubah karakter perseroan sebagai bank yang tumbuh bersama pelaku usaha dan ekonomi kerakyatan.

“BRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai core business. Kami percaya pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat,” tegasnya.

Bukan Sekadar Memberi Kredit, tetapi Membuat UMKM Naik Kelas

Komitmen BRI terhadap ekonomi kerakyatan tidak berhenti pada penyaluran pembiayaan.

Perseroan juga membangun ekosistem pemberdayaan UMKM dari tingkat desa, komunitas usaha hingga pelaku usaha individual.

Hingga Juni 2026, program Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan. Program Klasterku Hidupku telah menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha, sementara platform digital LinkUMKM telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM.

Pendampingan melalui Rumah BUMN juga telah melibatkan sekitar 596 ribu pelaku UMKM hingga Juni 2026.

Pada sisi pembiayaan, sepanjang Januari hingga Juni 2026, BRI telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Rp103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur.

Baca Juga  Pasar Mardika Butuh Langkah Ekstrem

Jika ditarik sejak 2015 hingga Juni 2026, akumulasi penyaluran KUR BRI telah mencapai Rp1.539 triliun kepada 48,4 juta nasabah.

Transformasi BRIVolution Reignite Mulai Berbuah

Di balik capaian tersebut terdapat agenda transformasi BRIVolution Reignite, yang diarahkan pada dua fokus besar: memperkuat bisnis pendanaan sekaligus melakukan pembaruan terhadap bisnis inti dan membangun sumber pertumbuhan baru.

BRI memperbesar basis dana murah melalui pendekatan berbasis ekosistem, memperkuat transaksi digital melalui BRImo, QRIS dan BRILink Agen, serta memperluas integrasi value chain dan One BRI Solution.

Di sisi bisnis mikro, perseroan juga memperkuat kapabilitas tenaga pemasar atau mantri serta menerapkan manajemen risiko yang semakin granular.

Transformasi tersebut, menurut Hery, bukan sekadar proyek perubahan organisasi.

“Transformasi yang kami jalankan bukan semata untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi. Fokus kami adalah memastikan BRI memiliki mesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Pertumbuhan yang Diukur dari Dampaknya

Dengan laba Rp31,2 triliun, aset Rp2.352 triliun dan kredit Rp1.646 triliun, BRI memasuki paruh kedua 2026 dengan fundamental yang semakin solid.

Namun bagi BRI, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada neraca dan laba.

Pertumbuhan juga diukur dari seberapa jauh pembiayaan mampu membuka kesempatan bagi pelaku usaha, memperkuat UMKM, menciptakan aktivitas ekonomi dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Pada akhirnya, keberhasilan BRI tidak hanya kami ukur dari pertumbuhan aset, kredit, maupun laba. Yang juga penting adalah seberapa besar pertumbuhan tersebut mampu menciptakan nilai, membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk berkembang, dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” kata Hery.

Dengan fondasi yang semakin kuat, transformasi yang terus berjalan dan UMKM yang tetap menjadi jantung bisnis, BRI menegaskan satu pesan penting: mesin pertumbuhan boleh berubah, tetapi keberpihakan terhadap ekonomi kerakyatan tetap menjadi DNA perseroan.

Share :

Baca Juga

Berita

Karhutla Meluas di Malteng, Warga Bertahan dengan Peralatan Sederhana Hadapi Kobaran Api

Berita

DPRD Maluku Dorong Ketahanan Pangan dan Hilirisasi Pala-Kelapa, Anggaran Pusat Harus Dikawal

Berita

Solichin Buton: Sengketa Wilayah Adat Jangan Langsung ke Ranah Hukum, Utamakan Musyawarah

Berita

HUT RI ke-81, Benhur Watubun Ajak Masyarakat Maluku Perbanyak Kebaikan dan Rawat Persaudaraan

Berita

HUT ke-81 Maluku Jadi Momentum Evaluasi, Benhur Watubun: Pembangunan Tak Boleh Jalan di Tempat

Berita

Komisi I DPRD Maluku Konsultasi ke Wamenkum, Bahas Perlindungan Masyarakat Hukum Adat

Berita

Target PAD Maluku Dinilai Terlalu Tinggi, DPRD Dorong Bapenda Lakukan Penyesuaian

Berita

Unpatti Terima 5.846 Mahasiswa Baru, Rektor Tegaskan Komitmen Pendidikan Berkualitas