AMBON, GLOBALMALUKU.ID – Transformasi digital sistem pembayaran terus didorong di Provinsi Maluku, khususnya Kota Ambon. Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Maluku bersama Pemerintah Kota Ambon menegaskan komitmennya untuk memperluas penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai bagian dari penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan digital.
Hal tersebut disampaikan dalam Closing Ceremony Pekan QRIS Nasional (PKN) Provinsi Maluku Tahun 2026 yang berlangsung di Jalan Pattimura, Kota Ambon, Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena, Kepala Perwakilan BI Provinsi Maluku Surya Alamsyah, Kepala OJK Provinsi Maluku Hermain Biladi, Ketua TP-PKK Kota Ambon Lisa Wattimena, Para Pimpinan OPD di Lingkup Pemerintah Kota Ambon, jajaran perbankan dan lembaga keuangan, pelaku UMKM, satuan pendidikan, komunitas serta berbagai mitra kegiatan.
Dalam sambutannya, Surya Alamsyah mengatakan QRIS merupakan salah satu inovasi digital di bidang sistem pembayaran yang telah menjadi game changer bagi sistem pembayaran di Indonesia.
Menurutnya, QRIS memberikan kemudahan transaksi yang cepat, mudah, murah, aman dan andal.
“QRIS pertama kali diterbitkan oleh Bank Indonesia pada 17 Agustus 2019. Memasuki usianya yang ketujuh tahun, QRIS kini telah memasuki tahap usage, yaitu semakin luasnya penggunaan QRIS dalam aktivitas sehari-hari masyarakat,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, hingga Juni 2026, jumlah pengguna QRIS di Maluku telah mencapai 177.973 pengguna, dengan jumlah merchant mencapai 117.636 merchant QRIS.
Capaian tersebut, kata Surya, mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu tidak terlepas dari sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, perbankan, lembaga keuangan, mitra serta masyarakat.
PKN Maluku Sentuh Edukasi hingga Aksi Sosial
Surya menjelaskan, PKN 2026 di Maluku mengusung konsep “Pintar dan Sehat Bersama QRIS”. Konsep tersebut diwujudkan melalui tiga pendekatan, yakni edukasi, experience, dan social impact.

Pada sisi edukasi, BI berkolaborasi dengan Yayasan Safrius dan berbagai pihak untuk memberikan pemahaman mengenai QRIS dan perlindungan konsumen.
Selama satu minggu, kegiatan edukasi tersebut berhasil menjangkau hampir 1.000 pelajar dan masyarakat umum melalui permainan, mendongeng hingga post-test untuk mengukur tingkat pemahaman peserta.
Sementara pada pendekatan experience, BI bekerja sama dengan KORMI dan komunitas yoga melalui kegiatan olahraga bersama. Dari kegiatan tersebut berhasil diakuisisi lebih dari 150 pengguna QRIS baru dan tercatat sekitar 5.000 transaksi QRIS.
Adapun pendekatan social impact diwujudkan melalui kolaborasi bersama Tim Percepatan Penanggulangan Stunting yang diketuai Lisa Wattimena, PMI Kota Ambon dan berbagai pihak lainnya.
Kegiatan tersebut menghadirkan 50 peserta untuk pemeriksaan anak stunting serta berhasil menghimpun 95 peserta donor darah.
“Rangkaian Pekan QRIS Nasional ini kami harapkan tidak hanya menjadi sebuah kegiatan seremonial, tetapi juga memberikan dampak nyata dan menjadi langkah bersama dalam membangun ekosistem sistem pembayaran digital yang inklusif, aman, mudah dan bermanfaat bagi masyarakat,” kata Surya.
Wali Kota: Transformasi Digital Bukan Lagi Pilihan
Sementara itu, Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena menegaskan bahwa transformasi digital bukan lagi sebuah pilihan, tetapi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Menurutnya, kehadiran QRIS memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam melakukan transaksi secara cepat, praktis dan aman.
“QRIS telah memberikan kemudahan dalam melakukan transaksi secara cepat, praktis, dan aman,” kata Bodewin.
Ia menilai, digitalisasi pembayaran juga memberikan peluang besar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk memperluas akses pasar, meningkatkan efisiensi transaksi dan memasuki ekosistem ekonomi digital.
Karena itu, Pemerintah Kota Ambon menyatakan dukungan penuh terhadap perluasan penggunaan QRIS di tengah masyarakat.
Pemkot, kata Bodewin, ingin agar digitalisasi pembayaran tidak hanya berkembang di pusat kota, tetapi juga menjangkau pelaku UMKM, pasar tradisional, usaha kreatif, komunitas hingga berbagai sektor pelayanan masyarakat.
Dorong UMKM dan Generasi Muda Adaptif
Bodewin juga mengajak para pelaku UMKM di Kota Ambon agar tidak takut beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Jadikan teknologi sebagai alat untuk terus berkembang. Jangan hanya berpikir bagaimana menjual produk kita hari ini, tetapi pikirkan bagaimana produk tersebut dapat dikenal lebih luas, dipasarkan secara digital, dan mampu bersaing di masa depan,” pesannya.
Ajakan serupa disampaikan kepada generasi muda Kota Ambon. Ia berharap anak-anak muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menciptakan peluang melalui teknologi.
“Kita ingin Ambon menjadi kota yang semakin maju, adaptif, inklusif, dan siap menghadapi perkembangan ekonomi digital,” tegasnya.
QRIS Jangan Berhenti di Seremonial
Bodewin menekankan, semangat yang dibangun melalui PKN 2026 harus dilanjutkan melalui aksi nyata.
Ia mengajak masyarakat untuk membiasakan penggunaan QRIS dalam berbagai aktivitas transaksi sekaligus mendukung UMKM lokal.
“QRIS bukan sekadar alat pembayaran, tetapi merupakan bagian dari langkah kita menuju ekonomi yang inklusif dan modern,” ujarnya.
Pemerintah Kota Ambon, lanjut Bodewin, akan terus memperkuat sinergi dengan Bank Indonesia, OJK, perbankan, pelaku usaha, komunitas serta seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan digital di Kota Ambon.
Menutup rangkaian kegiatan, Kepala Perwakilan BI Provinsi Maluku mengajak seluruh masyarakat untuk semakin membiasakan diri menggunakan QRIS.
“Mari katong pakai QRIS! QRIS-nya satu, menangnya banyak!” serunya.
Dengan capaian pengguna dan merchant yang terus bertumbuh, QRIS diharapkan tidak hanya menjadi instrumen pembayaran, tetapi juga menjadi bagian dari upaya bersama memperluas inklusi keuangan, memperkuat UMKM dan mempercepat transformasi ekonomi digital di Maluku.





































